Ditulis pada tanggal 25 Pebruari 2015, oleh PWK Universitas Brawijaya, pada kategori Uncategorized

green city

Sejak Kota Malang terpilih sebagai salah satu dari empat kota di Indonesia yang dijadikan sebagai pilot project Green Cities Action Program oleh Asian Development Bank (ADB), Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) semakin giat mematangkan strategi-strategi untuk mewujudkan Malang sebagai Kota Hijau. Program diawali dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mengundang stakeholder terkait dalam mewujudkan rencana tersebut. FGD bertema Penataan Taman Kota dan Rencana Aksi Kota Hijau dilaksanakan di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Selasa (17/2).

Hadir sebagai salah satu narasumber dalam FGD tersebut dosen Jurusan Perencanaan Wilayah & Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB), Dian Kusuma Wardhani, ST., MT. DKP Kota Malang mengundang Dian setelah melihat komitmen dosen tersebut dalam membangun green city sejak level keluarga melalui anak-anak. Dalam FGD yang dibuka Walikota Malang tersebut, Dian memaparkan presentasi yang berjudul Make Sustainability Learning Fun.

“Jadi bagaimana caranya belajar tentang sustainability, untuk anak-anak terutama, itu supaya menyenangkan seperti apa,” tuturnya.

Menurut Dian, DKP sebenarnya mempunyai rencana-rencana bagus untuk mewujudkan Kota Malang sebagai Green City. Namun ia menilai terkadang warga kota sendiri yang dirasa kurang perhatian terhadap program-program tersebut. Dian menyarankan bila perlu warga mengikuti akun twitter atau facebook DKP Kota Malang sebagai wujud kepedulian, karena mereka selalu meng-update program-program terbarunya melalui media sosial.

Bahkan yang kontradikitif, warga terkadang menganggap event DKP seperti Lomba Kampung Hijau, hanya sebagai lomba yang manfaatnya berlangsung sesaat saja. Padahal kegiatan diadakan dengan harapan manfaat bisa dirasakan selamanya. “Setelah lomba selesai dan juri pulang, perangkat lomba diringkesringkes. Padahal maksudnya supaya kontinyu warga punya taman toga sendiri. Jadi semacam formalitas saja bagi warga,” ungkapnya.

Membangun Green City Melalui Keluarga

Komitmen Dian dalam membangun green city melalui level keluarga sebagai satuan terkecil dituangkan dengan memberikan edukasi kepada anak-anak lewat dua buku yang berjudul Kisah Kota Kita dan Kumpulan Cerita: Sahabat Bumi. Meskipun buku ini ditujukan untuk anak-anak, namun idenya muncul saat dia mengajar di kelas Studio Pemukiman Kota Jurusan PWK.

“Buku ini sebenarnya buku perencanaan permukiman, cuman akhirnya bukunya menjadi lebih menarik,” jelasnya.

Mengapa anak-anak yang dijadikan sasaran, Dian menjelaskan bahwa  mindset anak-anak lebih mudah diarahkan daripada orang dewasa. Bahkan, ia menilai anak-anak lebih berkomitmen terhadap apa yang diajarkan daripada orang dewasa. Namun, orang tua tetap diharapkan dapat menjadi role model atau teladan bagi anak mereka.

“Kalau orang tua tidak sinkron dengan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan kepada anak, anak akan kesulitan menyesuaikan antara teori dengan praktik dan kadang bisa putus asa juga,” terangnya.

Dian menambahkan, melalui buku yang dikemas dengan cerita yang menarik, anak-anak tidak akan merasa digurui, tapi diarahkan melalui cerita. Sehingga, mereka akan merasa penasaran dan menimbulkan keingintahuan anak sehingga menjadi pengetahuan baru. Yang menarik, terungkap ketika Dian mengadakan publikasi bukunya , banyak orang tua yang tidak tahu tentang bank sampah, rain harvesting, atau wastewater gardens sehingga meminta materi terkait.

“Akhirnya saya mikirnya ya itu bagian kita dari akademisi untuk sampai ke masyarakat. Kalau kita ngomongnya disini (di kampus) saja mungkin sudah banyak yang tahu, tapi diluar kampus masih banyak yang belum paham,” pungkasnya. (and)