Ditulis pada tanggal 25 Maret 2015, oleh PWK Universitas Brawijaya, pada kategori Uncategorized

11-copy

Mengajak mahasiswa menilik lebih dalam mengenai hubungan alam dan pelestariannya, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota PW&K Fakultas Teknik Universitas Brawijaya mengundang Hassan Pedersen dari Indonesian Integrated Insitute for Sustainability. Di bawah tema  “Sustainable Settlement and Sustainable Living”, Pedersen mengkritik dalam terhadap permasalahan social dan lingkungan hidup dimana pemecahannya terdapat pada komitmen individu dan komitmen masyarakat. Mahasiswa Jurusan PWK sebagai piñata kawasan dimasa depan untuk menjadi fasilitator bagi masyarakat untuk pola hidup yang lebih berkelanjutan.

Acara terlebih dulu dibuka oleh Mustika Anggraeni, ST., M.Si sebagi pengampu mata kuliah Permukiman Kota, menyambut pemateri kuliah tamu. Dalam sambutannya Mustika terlebih dahulu menyampaikan rasa terimakasihnya untuk kehadiran Hassan Pedersen dari Indonesian Integrated Insitute for Sustainability dan berharap akan ada kerjasama yang intensif ke depannya antara kedua institusi.

Berlanjut ke sesi presentasi, Pedersen terlebih dahulu membahas lebih dalam mengenai pengertian sustain, sustainable dan sustainability. Menurut Pedersen pengertian mengenai ketiga kata kunci ini penting bagi mahasiswa untuk menentukan langkah- langkah menuju sustainable living dan sustainable settlement.

Bagi Pedersen mewujudkan Sustainable Living adalah mengenai pilihan gaya hidup yang cermat dalam eksploitasi sumber daya alam, misalnya dengan memilih alat transportasi yang ramah lingkungan dan tidak bergantung pada bahan bakar fossil. Dalam bahasan ini Pedersen yang sendirinya menjalankan gaya hidup sustainable mencoba menggugah mahasiswa peserta kuliah tamu agar lebih bijak memilih sarana prasarana yang lebih sustainable.

Membahas Sustainable Settlement Pedersen mengulik lebih jauh mengenai perencanaan kota dan factor- factor pendukungnya seperti area pendidikan, area penyediaan pangan area kesehatan dan perkantoran. Perencanaan kota harus selalu melihat factor-faktor diatas dari sudut pandang lokasi, proses penyediaan, dan produksi. Pedersen mencontohkan bagaimana penataan area yang terjadi misalnya di Salah satu negara bagian Amerika Serikat, California yang memiliki pertanian strawberry yang sangat besar padahal wilayahnya mengalami kekeringan. “California  harus mendatangkan air dari negara bagian lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduknya ditambah untuk pertanian strawberry yang besar. Padahal nantinya strawberry yang ditanam di California dikonsumsi di pasar New York yang berjarak ratusan kilometer” Ujarnya penuh ironi.

Penataan wilayah yang tepat dimana masing-masing wilayah memiliki kemandirian dengan factor pendukung yang tepat demi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakatnya menjadi tantangan bagi mahasiswa perencanaan wilayah. “Tidak hanya rekayasa fisik, rekayasa mental mengenai gaya hidup yang tidak konsumtif dan lebih cermat dalam memilih produk yang ramah lingkungan!” tutupnya. (emis)