Ditulis pada tanggal 13 Mei 2016, oleh PWK Universitas Brawijaya, pada kategori Uncategorized

Seringkali praktisi planner (perencana kota) menghadapi dilema dalam merencanakan tata ruang kota. Apakah perencanaan dengan tipe pemukiman kepadatan tinggi atau dengan tipe pemukiman kepadatan rendah. Atau bila harus memilih, perencanaan pemukiman dengan pola jalan grid atau dengan pola jalan besar. Pertanyaannya adalah, manakah yang lebih baik?

Pakar tata ruang kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) Dr. Ir. Agus Dwi Wicaksono, Lic. Rer.Reg menguraikan hal ini dalam Seminar Arsitektur dan Perkotaan City of Tomorrow. Menurutnya, bagaimanapun juga banyak faktor yang mempengaruhi perencanaan suatu kota. Namun, bagaimana tuntutan perencanaan suatu kota di masa depan?

“Kalau kita berbicara kota yang ‘baik’, seharusnya mencerminkan kearifan lokal, menginterprestasi kebijakan makro, mampu memecahkan masalah lokal, dan mampu menjawab isu global (berkelanjutan),” beber Agus di Auditorium Prof. Ir Suryono, Rabu, 11 Mei 2016.

Lebih jauh, Agus memaparkan isu global kota yang berkelanjutan. Ia mengusulkan konsep perencanaan generasi ketiga dalam kota berkelanjutan.

Dalam paparannya, Agus menguraikan banyak istilah, konsep, tipologi, atau kriteria untuk kota berkelanjutan dari pakar-pakar di dunia; Neotraditional DevelopmentUrban ContainmentCompact City, dan Eco City. Masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Neotraditional Development misalnya, konsep ini menawarkan kota berorientasi pedestrian dan tingkat kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya dan mendukung penggunaan lahan campuran. Kemudian Urban Containment, konsep ini bertujuan menghambat ekspansi area terbangun suatu kota dan mendorong perkembangan ke dalam (inward).

Tidak jauh berbeda, Compact City memiliki ciri bentuk kota kompak dengan radius kota yang kecil, kepadatan tinggi, serta mendukung penggunaan guna lahan campuran. Namun, bila dirangkum, maka terdapat kriteria-kriteria yang hampir sama dari masing-masing konsep.

“Bila dirangkum kriteria kota masa depan memiliki kepadatan tinggi, keragaman tinggi, guna lahan campuran, kompaksi tinggi, transportasi berkelanjutan, passive solar design, dangreening ecological design,” jelasnya.

Menurut kota berkelanjutan, lanjut Agus, masing-masing kriteria dapat mengurangi penggunaan sumber daya alam atau energi, mengurangi jarak tempuh dan penggunaan kendaraan pribadi, mendorong interaksi sosial, meningkatkan keseragam sosial budaya dan kesetaraan, serta peningkatan kualitas lingkungan.

“Buktinya pada kota dengan tingkat kepadatan tinggi seperti Hongkong, Singapore, Moscow, Tokyo, semakin efisien kebutuhan energinya. Tapi kota-kota dengan kepadatan rendah seperti Amerika Utara dan Australia, kebutuhan akan energinya susah,” kata Agus.

Dampaknya bukan hanya itu, bahkan penggunaan angkutan umum di Singapore, Hongkong, dan Tokyo tidak perlu disubsidi lagi. Karena mereka mampu untuk mendapatkan incomeyang lebih bila dibandingkan kota-kota di Amerika Utara atau Australia. Memang, Agus menambahkan, bila kepadatan terlalu tinggi ternyata juga banyak dampak negatifnya.

“Yang terbaik adalah tidak terlalu padat atau rendah dengan kemungkinan banyak desain yang masih bisa dikembangkan. Istilahnya adalah Urban Perimeter Blocks,” tutur alumniUniversitat Karlsruhe TH ini.

Kemudian, keragaman penggunaan lahan yang tinggi berupa perdagangan dan jasa, industri, pendidikan dan fasum, perumahan, dan sarana rekreasi harus mendukung jarak yang yang dapat dicapai dengan berjalan kaki atau naik sepeda.

“Radius atau jarak orang maksimal orang berjalan kaki yang nyaman dalam aktivitas sehari-sehari rata-rata ke pusat layanan adalah 750 meter,” tukasnya.

Sementara itu, merancang jalan permukiman tidak boleh terlalu lebar atau sempit. Konsep ini dikenal dengan istilah konsep small block size. Mengapa? Dengan banyaknya persimpangan meningkatkan indeks konektivitas dan dapat mengurangi kecepatan kendaraan bermotor. Jalan ini harus memiliki pola saling terhubung agar mempunyai pilihan rute dan dapat memilih rute terpendek.

Skala kecil dari kota berkelanjutan adalah kampung kota. Ia mencontohkan beberapa kampung kota yang dapat dijadikan contoh pengembangan. Diantaranya Kampung Kota di Surabaya, Kotagede Yogyakarta, Kampung Batik Laweyan Solo, Kampung Kemasan Gresik, dan Kampung Ampel Surabaya.

“Tinggal dibenahi atau dipoles saja hal-hal kecil seperti masalah sirkulasi udara. Apalagi kalau kita tambahkan namanya vitalitas ekonomi atau istilahnya kampong tematik maka akan semakin baik,” imbuh Agus.

Perencanaan generasi ketiga menuju kota berkelanjutan mengibaratkan kampung sebagai sel yang harus berinteraksi dengan sistem lingkungan yang lebih luas. Pada dasarnya, titik kritis proses perencanaan yang pertama ada pada tahap survey dan yang kedua adalah proses pengendalian. (and)