Ditulis pada tanggal 20 November 2017, oleh Dian Indah Shofarini, pada kategori Uncategorized

Kegiatan konservasi sumber mata air candi Sumberawan dilakukan demi mempertahankan kelestarian sumber mata air Candi Sumberawan. Kegiatan konservasi dilakukan oleh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Pemerintah Desa Toyomarto, Karang Taruna Desa Toyomarto, LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Desa Toyomarto, Batalyon Artileri Medan 1 Singosari, Divisi Infanteri 2/Kostrad, UPT Pelatihan Kerja Singosari, dan PDAM Unit Singosari.

Dusun Sumberawan yang berada di Desa Toyomarto merupakan salah satu pelopor dusun yang berhasil mengelola mata air Sumberawan secara mandiri melalui sistem HIPPAM. Pengelolaan HIPPAM membutuhkan peran modal sosial yang tinggi. Hippam (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) merupakan salah satu wadah atau lembaga yang sah menurut perundangan dan peraturan pemerintah untuk menyelenggarakan dan mengelola sistem penyediaan air bersih demi kepentingan masyarakat. Sistem pengelolaan HIPPAM lebih pada orientasi sosial (bukan profit). Kegiatan pengelolaan HIPPAM yang dimulai sejak tahun 1994 ini terbagi menjadi empat paguyuban yang terdiri dari beberapa kelompok RT di Desa Toyomarto. Paguyuban ini terbagi menjadi kelompok Gotong Royong I, II, III dan Gotong Royong IV. Debit air yang mengalir melalui sistem perpipaan yang menuju ke permukiman penduduk tergolong baik dan lancar. Selama satu tahun penuh, penduduk Desa Toyomarto dapat memenuhi kebutuhan air bersih tanpa terkendala dengan permasalahan macetnya aliran air. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi kuantitas air di mata air Sumberawan masih baik.

Kegiatan konservasi dilakukan pada tanggal 19 November 2017 yang diikuti oleh perwakilan dari Pemerintah Desa Toyomarto, Karang Taruna Desa Toyomarto, LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Desa Toyomarto, Batalyon Artileri Medan 1 Singosari, Divisi Infanteri 2/Kostrad. Sementara itu, UPT Pelatihan Kerja Singosari dan PDAM Unit Singosari turut berpartisipasi dengan menyumbangkan dana masing-masing sebesar Rp 200.000,00 untuk membantu kelancaran acara. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman pohon dalamĀ  kegiatan konservasi berjumlah 225 pohon. Jenis pohon yang digunakan yaitu pohon mangga, langsep, kelengkeng, rambutan, jambu, maleka, cemara, pucuk merah, dan pacar cina. Bu Ismu sebagai ketua panitia berharap dengan adanya kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa akan kelestarian lingkungan dan sebagai salah upaya memperingati hari tata ruang 2017 yang dilaksanakan setiap tanggal 8 November setiap tahunnya. (dis)