Ditulis pada tanggal 6 Maret 2015, oleh PWK Universitas Brawijaya, pada kategori Uncategorized

peter

Professor Peter Newman BSc, Ph.D, Dip.ES&T, ahli di bidang sustainability Curtin University, mengungkapkan bahwa kepadatan penduduk memainkan peranan penting dalam pembangunan berkelanjutan. Utamanya ketika menjadi solusi bagi kota dengan kepadatan penduduk rendah di dunia, dimana kota tersebut bergantung pada penggunaaan mobil untuk kegiatan sehari-hari yang sangat konsumtif terhadap sumber daya alam.

Fuel use decreases exponentially as density increases,” terang Peter saat memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah Kota FTUB di auditorium Prof. Ir. Suryono, Rabu (4/3).

Pernyataan Peter didasarkan pada data penelitian Cities Data Base for 2005 Curtin University Sustainability Policy (CUSP) tahun 2010. Dari penelitian ini diungkapkan bahwa jumlah pemakaian energi per kapita di sektor transportasi kota-kota besar dunia berbanding terbalik terhadap peningkatan kepadatan penduduk perkotaan. Penggunaan terbesar berada di Kota Atalanta, Amerika Serikat, dimana nilai rata-rata pemakaian energi di sektor transportasi adalah 103.000 MJ/orang dengan kepadatan penduduk 5,5 orang/hektar. Sementara Hongkong dengan rata-rata kepadatan penduduk 322 orang/hektar menggunakan energi di sektor transportasi hanya di kisaran 4000 MJ/orang.

Hal ini tidak lepas dari masyarakat yang tinggal di pusat kota lebih memilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik untuk beraktifitas. Sedangkan masyrakat yang tinggal di pinggiran kota memilih menggunakan kendaraan pribadi (mobil dan speda motor) atau taksi untuk beraktifitas.

Kemudian dari buku yang ia buat di tahun 1989 yang berjudul “The End of Automobile Dependence”, terdapat dua solusi bagaimana cara beralih dari perencanaan kota berbasis kendaraan pribadi (mobil). Yang pertama adalah mengorientasi kembali prioritas transportasi kota. Kedua, mengadakan urbanisasi ke daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi.

Ia juga menampik mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang dampak buruk meningkatnya kepadatan penduduk dengan menghadirkan fakta-fakta yang berkebalikan. Bahkan, dari hasil perhitungan yang ia lakukan pada Kota Perth, pembangunan kembali kota ke daerah terpusat padat penduduk dibandingkan pembangunan kembali kearah pinggiran perkotaan dengan kepadatan rendah menghemat 212,9 milliar Dolar Australia selama 30 tahun.

Bagaimana kita berpikir tentang Malang dan kepadatan penduduk? Peter memberikan masukan, Kota Malang membutuhkan perencanaan pembangunan kota kembali, utamanya dimana untuk menempatkan kepadatan penduduk. Ia menambahkan, area perkampungan perlu dibangun secara organik. Tak lupa area kampus harus dibangun kembali menjadi area yang menyenangkan untuk pejalan kaki.

High density is the higher possibility to achieve sustainable transportation. Don’t be afraid of density,” pungkas Peter. (and)